Tampilkan postingan dengan label PRODUSEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PRODUSEN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Oktober 2011

PETA PRODUSEN KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)

KOPI Pada tahun 2009 terdapat sebanyak 473 perusahaan KOPI di Indonesia, dimana dari jumlah tersebut yang dipastikan masih aktif berproduksi ada sejumlah 205 perusahaan. Sedangkan Sebanyak 268 perusahaan lainnya merupakan perusahan dengan skala kecil atau skala rumah tangga yang aktifitas produksinya bersifat musiman atau tidak menentu, dan yang tidak dapat dilacak eksistensinya. Dari 205 perusahaan yang aktif tersebut, sebanyak 167 perusahaan memproduksi KOPI bubuk dan 57 perusahaan memproduksi KOPI mix instan. Yang menarik adalah sebagian besar dari perusahaan-perusahaan yang masih aktif tersebut (99 perusahaan atau 48,3%) justru berada di Pulau Jawa (DKI, Jawa Timur dan Jawa Barat). Dari 99 perusahaan tersebut, yang berdomisi di DKI merupakan yang paling banyak yakni 30 perusahaan. Padahal, DKI jelas tidak memiliki perkebunan KOPI. Jawa Timur yang merupakan salah satu sentra KOPI nasional masih wajar jika memiliki produsen sebanyak 22 perusahaan. Tetapi, Pulau Sulawesi yang merupakan sentra produksi KOPI nasional, utamanya Sulawesi Selatan, produsen yang masih aktif justru tinggal 9 perusahaan saja. Sentra produsen lainnya seperti Lampung hanya ada 8 produsen yang masih aktif, dan di Bengkulu hanya ada 2 perusahaan saja.

Hal ini memberikan indikasi bahwa perputaran ekonomi di sentra produksi KOPI tertentu masih belum berkembang dengan baik, karena added value dari KOPI belum dapat dinikmati masyarakat setempat. KOPI masih dijual dalam bentuk asalan. Pembelian KOPI oleh produsen yang letaknya relatif lebih jauh dari sentra produksi KOPI, setidak-tidaknya relatif menekan harga ditingkat petani. Apalagi biaya transportasi lokal masih dikenal berbiaya tinggi.

Jumlah Produsen KOPI dan Penyebarannya, 2009

Selanjutnya, jika dilihat dari segi jenis KOPI olahan yang dihasilkan, produsen KOPI di Indonesia masih terbesar memproduksi KOPI bubuk atau KOPI mix, dan hanya sebagian kecil saja yang memproduksi KOPI instan. Kecilnya jumlah produsen dari KOPI instan (pure instant) disebabkan karena investasinya jauh lebih besar, dan pasarnya di dalam negeri masih jauh lebih kecil dibandingkan KOPI bubuk.

Dari data menunjukkan bahwa produsen yang menguasai pasar KOPI instan di Indonesia hanya terdiri atas tiga perusahaan saja, yakni PT Nestle Indonesia yang berdomisili di Lamping dengan kapasitas 12.000 ton per tahun, PT Sari Incofood Corporation dengan kapasitas produksi sebesar 3.000 ton per tahun, dan PT Torabika Eka Semesta dengan kapasitas produksi mencapai 3.600 ton per tahun.

Jika dilihat dari status permodalan perusahaan, dari 205 perusahaan yang dipastikan aktif beroperasi tersebut, ternyata hanya 5 (lima) perusahaan saja yang menggunakan fasilitas penanaman modal asing (PMA), yaitu PT Aneka Boga Nusantara, PT Aneka Coffee Industry, PT Carrefour Indonesia, PT Nestle Indonesia, dan PT Toarco Jaya.

Tetapi PT Carrefour Indonesia yang pemodal asingnya berasal dari Perancis yakni Continent Hyermarces, dan dari Belanda yakni Carrefour Nederland B.V. dan Onesia B.V. sebetulnya belum memiliki pabrik KOPI di Indonesia, sehingga perusahaan ini masih bekerja sama dengan PT Goodfood Indonesia dalam bentuk mitra sewa produksi (makloon). Sedangkan PT Toarco Jaya yang pabriknya berlokasi di Tana Toraja, pemodal asingnya berasal dari Jepang yang diwaliki oleh Sulawesi Development Company Ltd, dan mitra lokalnya adalah PT Utesco.

PT Aneka Boga Nusantara sendiri pemodal asingnya berasal dari dua negara yakni dari Jepang (Daesang Japan Inc.) dan dari Korea Selatan (Daesang Food Corporation) dengan mitra lokal yakni PT Miwon Indonesia Tbk dan PT Jico Agung.

Selanjutnya yang memanfatkan fasilitas penanaman modal dalam negeri (PMDN) terdapat 9 perusahaan, berturut-turut PT Inbraco (Jakarta), PT Torabika Eka Semesta (Jakarta), PT Tri Cipta Chandra (Tangerang), PT Megah Putra Sejahtera (Makassar), PT Setia Unggul Mandiri (Makassar), PT Konimex (Solo), PT Perkebunan Nusantara IX (Kendal), PT Perkebunan Nusantara XII (Jember), dan PT Putra Bhinneka Perkasa (Depasar). Artinya, mayoritas produsen KOPI lokal (191 perusahaan) belum memanfaatkan fasilitas penanaman modal dari BKPM.

Artikel Terkait:

PRODUSEN DAN PERKEMBANGAN PRODUK KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI) BAG 2KARAKTERISTIK USAHA INDUSTRI KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)PRODUSEN DAN PERKEMBANGAN PRODUKSI KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI)KUNCI SUKSES USAHA / INDUSTRI KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI)PERKEMBANGAN PRODUKSI KOPI DI INDONESIA

Peluang Usaha UKM

Senin, 03 Oktober 2011

PRODUSEN DAN PERKEMBANGAN PRODUKSI KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI)

KOPI Profil Pemain Utama ; PT Santos Jaya Abadi dengan merek andalan utamanya Kapal Api merupakan market leader di pasar KOPI bubuk di pasar domestik dewasa ini, dimana masih sulit ditandingi oleh produsen atau merek KOPI bubuk lainnya yang tentunya bersaing dengan ketat di pasaran. Kekokohan dari merek Kapal Api ini mengacu kepada hasil riset MARS Indonesia di “Indonesia Consumer Profile (ICP)” yang dilakukan secara rutin setiap tahun.

Adapun pada tahun 2007, pangsa pasar Kapal Api mencapai hampir setengah dari total pasar KOPI bubuk bermerek di dalam negeri (44,3%), sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya (2006) yang sebesar 44,0%. Pada tahun 2008, pangsa pasar ini sedikit naik menjadi 47,2%, tetapi kemudian pada tahun 2009 kembali turun menjadi 43,6%. Atau dengan kata lain, dalam empat tahun terakhir pangsa pasar merek Kapal Api sebesar 45% per tahun. Atau dua setengah kali lipat lebih tinggi dibandingkan pangsa pasar merek kedua terbesar yakni merek ABC (dalam tahun 2009 sebesar 18.9%).

Jadi, dengan dua merek ini saja, PT Santos Jaya Abadi betul-betul mendominasi pasar bubuk bermerek di dalam negeri, yakni mencapai 62.5%. Belum lagi merek-merek lainnya yang juga sudah dikenal baik di pasaran seperti Ya dan Good Day.

Untuk menjadi perusahaan yang besar seperti saat ini, PT Santos Jaya bukanlah tanpa tantangan dalam perjalanan bisnis yang diawali dengan skala industri rumah tangga sederhana. Awalnya perusahaan ini didirikan di Surabaya pada tahun 1927 oleh Go Soe Loet, seorang perantau dari Cina daratan. Berbeda dengan pengusaha KOPI bubuk lainnya, ia menaruh perhatian yang fokus pada mutu aroma dan rasa dari produk KOPInya, dikombinasi dengan harga yang terjaga dan terjangkau oleh masyarakat luas. Ternyata apa yang dilakukannya ini terbukti menjadi senjata pamungkas keberhasilannya membesarkan usahanya. Dengan kiat yang tepat tersebut, perusahaaan pun tumbuh dengan cepat dan dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, perusahaan mulai memproduksi KOPI dengan merek “Kapal Api”.

Hingga tahun 1970, kemampuan produksi usaha keluarga ini masih hitungan ratusan kilogram saja per hari dan kemasannya pun masih dari kertas. Baru setelah tahun 1970, berkenaan dengan aktifnya generasi kedua keluarga ini dalam mengelola perusahaan, perubahan drastis pun terjadi baik dari sisi modernisasi mesin produksi, pengembangan manajemen, meningkatkan keterampilan tenaga kerja maupun dalam hal perluasan jaringan distribusi hingga ke seluruh Jawa Timur.

Keberanian manajemen memasang iklan di TVRI pada akhir 1970-an juga menjadi pemicu kesuksesan pemasaran produknya hingga dikenal secara nasional, tidak hanya di Jawa Timur saja. Bisa dikatakan, perusahaan ini menjadi pelopor iklan produk KOPI di layar kaca. Penjualan pun langsung meningkat berlipat ganda.

Secara yuridis perusahaan ini didirikan pada 18 Mei 1979 dengan nama PT Santos Jaya Coffee Company. Satu tahun kemudian, nama perusahaan diubah lagi menjadi PT Santos Jaya Abadi. Nama ini bertahan hingga saat ini.

Perusahaan pun terus berkembang, dan pada tahun 1980 manajemen membangun pabrik yang sekarang berada di Sepanjang, Sidoarjo, Jawa timur. Pada tahap ini, merk Kapal Api telah menjadi penyangga utama perusahaan yang tersebar rata di seluruh Indonesia sekaligus menjadi pemimpin pasar dengan rangkaian produk lengkapnya.

Setelah beberapa kali melakukan perluasan usaha, terakhir perusahaan ini melakukan pemasangan mesin baru buatan Jerman, sehingga kapasitas produksinya meningkat tajam dari 5 ton per jam menjadi 15 ton per jam. Artinya, jika perusahaan bekerja 300 hari per tahun dan dua shift per hari (@ 8 jam), maka utilitas produksi pertahunnya mampu mencapai 72.000 ton per tahun. Suatu kapasitas yang amat besar jika dibandingkan dengan konsumsi KOPI bubuk per tahun di dalam negeri saat ini yang berada pada sekitar 130.000 ton per tahun (atau sekitar 55% dari total konsumsi).

Melanjutkan sukses merk Kapal Api dan demi kepuasan pelanggan, PT Santos Jaya Abadi memperkenalkan beberapa merk KOPI lain yang juga berhasil meraih sukses di pasaran, yaitu Excelso, ABC, Good Day, Ya dan Kapten. Tampaknya merek Kapten khusus disegmentasikan ke daerah luar Jawa.

Tentunya, manajemen perusahaan ini bukan tidak ada kegagalan dalam membangun usaha perKOPIan bubuk ini. Merek DANGDUT yang pernah diluncurkan ke pasar, pada akhirnya dihentikan produksinya. Demikian pula, KOPI celup merek SANTOS yang diluncurkan ke pasar sejak 1993 juga saat ini telah dihentikan produksinya.

Hingga kini, PT Santos Jaya Abadi dengan rangkaian produknya telah menjadi bagian dari keseharian dan bahkan berlangsung dari generasi ke generasi. Hal ini tidak terlepas dari buah manajemen yang prima, dedikasi menyeluruh dari seluruh staff dan tentu saja layanan serta kualitas tinggi dari produk. Berikut ini disajikan profil produk dari PT Santos Jaya Abadi.

Artikel Terkait:

PRODUSEN DAN PERKEMBANGAN PRODUK KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI) BAG 2KARAKTERISTIK USAHA INDUSTRI KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)KUNCI SUKSES USAHA / INDUSTRI KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI)PERKEMBANGAN PRODUKSI KOPI DI INDONESIAPETA PRODUSEN KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)

Peluang Usaha UKM

Jumat, 30 September 2011

PRODUSEN DAN PERKEMBANGAN PRODUK KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI) BAG 2

KOPI PT Torabika Eka Semesta (PT TES). Meskipun dari segi penguasaan pasar kopi bubuk, perusahaan ini dengan merek andalannya Torabika amat jauh kalah bersaing dibandingkan dengan PT Santos Jaya Abadi, namun kehadiran perusahaan ini masih layak tetap diperhitungkan sebagai pemain utama bisnis kopi bubuk di Indonesia. Penguasaan pasar merek Torabika ini kurang dari 10% saja. Itupun, pada 2008 lalu sempat anjlok cukup signifikan menjadi 4.9% saja, lebih rendah dibandingkan tahun 2006 yang sebesar 8,7% atau pada 2007 yang sebesar 7,4%. Namun, pada 2009 lalu kembali naik lagi menjadi 7,5%.

Perusahaan yang didirikan pada tahun 1989 dengan fasilitas Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) ini, baru dapat berproduksi secara komersial pada tahun 1990. Kemudian perusahaan ini bergabung dalam group usaha PT Mayora Indah pada 1994.

Selain kopi bubuk yang diproduksi di pabriknya di Jakarta Barat dengan kapasitas 1.200 ton per tahun, perusahaan ini juga memproduksi kopi instan di pabriknya di Tangerang, Banten dengan kapasitas 3.600 ton per tahun.

Dalam memasarkan produknya perusahaan ini menggunakan merek dagang TORABIKA. Belakangan, produksi kopi instannya diberikan nama KOPIKO yang lebih diarahkan untuk ekspor, walaupun juga dipasarkan di dalam negeri. Berbagai varian produk pun diluncurkan dan merupakan produk instant mix, yakni merek Torabika moka diluncurkan pada 2007 dan Torabika OKE pada 2008. Ada lagi merek lainnya bernama Torabika Duo.

Dalam mengatasi persaingan, perusahaan ini cukup aktif melakukan iklan dan promosi-promosi lainnya. Namun, dari penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa iklan yang dilakukan perusahaan ini kurang efektif mempengaruhi secara positif terhadap sikap konsumen dan perilaku pembelian. Justru promosi penjualan secara below the line lebih efektif dalam memberikan pengaruh positip terhadap perilaku pembelian. Padahal, mustinya pengaruh iklan inilah yang jauh lebih diandalkan dari pada promosi penjualan saja. Tidak mengagetkan, jika perusahaan ini agak kepayahan mengatasi persaingan yang ketat dengan PT Santos Jaya Abadi dan produsen-produsen kopi lainnya, dimana dalam persaingan tersebut muncul peristiwa yang dapat memperburuk citra Torabika, yakni ada kupon bertuliskan “Anda mendapat hadiah Mobil Innova” di dalam sachet kopi.

Selain dipasarkan ke dalam negeri, kurang lebih seperlima dari produksi perusahaan ini dipasarkan ke luar negeri sejak 1993, dengan Negara tujuan antara lain Arab Saudi, Singapura dan Thailand.

Berikutnya yang tergolong pemain utama lainnya di percaturan bisnis kopi bubuk adalah PT Ayam Merak. perusahaan ini dengan merek andalannya AYAM MERAK mampu mencapai pangsa pasar kopi bermerek hingga 1,0% saja. Dalam survey yang sama pada 2009, pangsa pasar ini naik menjadi 1,5%.

Perusahaan yang didirikan pada tahun 1979 ini sebelumnya bernama Pabrik Kopi Banteng yang didirikan pada 1965. Seiring dengan perkembangan pasar kopi bubuk di dalam negeri, perusahaan ini meningkatkan penggunaan mesin mutakhir untuk memelihara kualitas produk yang dihasilkan dan juga melakukan pengembangan produk berupa penganekaragaman merek, kemasan dan ukuran.

Kini, produk dari perusahaan ini tidak saja dikenal dengan merek Ayam Merak saja tetapi sudah diluncurkan berbagai merek lainnya, yaitu BEGADANG, DUO AYAM, ]AGO BANGKOK, ]AGO SATU, CUNG dan ISTANA. Bahkan sebelumnya sempat diluncurkan merek MUNDIAL, tetapi kemudian dihentikan produksinya. Kemudian, kemasan yang awalnya hanya kaleng, tetapi sekarang sudah bervariasi, ada yang dalam bentuk kantong/polibag dengan berbagai ukuran. Dari sisi produk, juga sudah berkembang ke arah kopi mix dengan berbagai varian seperti plus gula, susu, moka dan lain-lain.

Artikel Terkait:

PRODUSEN DAN PERKEMBANGAN PRODUKSI KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI)KARAKTERISTIK USAHA INDUSTRI KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)PETA PRODUSEN KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)KUNCI SUKSES USAHA / INDUSTRI KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI)PERKEMBANGAN INDUSTRI KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)

Peluang Usaha UKM