Tampilkan postingan dengan label SEBAGAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEBAGAI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

KARET SEBAGAI KOMODITAS PERKEBUNAN UNGGULAN

karetKARET Sebagai Komoditas Perkebunan Unggulan : KARET merupakan tanaman tahunan yang tumbuh subur di daerah tropis dengan curah hujan yang cukup. Menurut asal-usulnya, tanaman KARET berasal dari Brasil dan kemudian berkembang di seluruh dunia. Namun saat ini penghasil utama KARET berada di negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Indonesia dan Malaysia.

Sejak pembangunan perkebunan di Indonesia dikembangkan oleh pemerintah kolonial Belanda, KARET telah dijadikan sebagai komoditas unggulan bersama tebu, kopi, teh, tembakau, kina, kapas dan rempah-rempahan. Demikian halnya setelah perkebunan-perkebunan Belanda dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia, KARET tetap menjadi salah satu komoditas primadona perkebunan.

Ketika Indonesia dipimpin oleh Jenderal Besar Presiden Soeharto, komoditas KARET semakin dipacu perkembangannya. KARET dibudidayakan oleh perkebunan rakyat (PR), perkebunan besar negara (PBN) dan perkebunan besar swasta (PBS). Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian, pada awal pemerintahan Soeharto di tahun 1967, luas perkebunan KARET di Indonesia baru 2.131.704 hektar dengan total produksi 709.251 ton. Kemudian pada akhir pemerintahan Presiden Soeharto di tahun 1997, luas perkebunan KARET Indonesia menjadi 3.474.402 hektar atau meningkat sekitar 63% dengan total produksi sebesar 1.552.585 ton atau meningkat sekitar 120%.

Tahun 1998, areal perkebunan KARET mencapai puncak dengan luas 3.607.295 hektar. Demikian pula produksinya yang mencapai 1.661.898 ton.

Namun, mulai tahun 1999 luas areal perkebunan KARET mengalami penyusutan hingga 3.262.267 hektar di tahun 2004 meskipun total produksinya masih cenderung terus meningkat. Baru pada tahun 2005 luas areal tersebut menunjukkan pertumbuhan kembali.

Sekarang, menurut Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Indonesia memiliki lahan perkebunan KARET paling luas di dunia. Sayangnya, dari segi produksi hanya mampu menempati urutan kedua setelah Thailand. Namun demikian, Indonesia memiliki hamparan perkebunan KARET seluas 3,47 juta hektar lebih, dimana 85% diantaranya merupakan perkebunan rakyat. Melalui upaya penerapan teknologi maju dan bibit jenis unggul diharapkan perkebunan KARET Indonesia mampu meningkatkan produksi per satuan hektar.

Indonesia menargetkan bisa menjadi negara penghasil KARET terbesar di dunia pada tahun 2015. Upaya itu dilakukan dengan merevitalisasi perkebunan KARET seluas 300.000 hektar hingga 2010, sekaligus mengganti tanaman KARET yang rusak dan tua yang mencapai 400.000 hektar. Selain itu, pemerintah juga mengundang investor untuk mengembangkan perkebunan KARET, sekaligus membangun usaha hilir dan pemilik modal itu akan diberi kemudahan dalam bidang perijinan dan insentif pajak.

Menurut Menteri Pertanian pula, budidaya perkebunan KARET memiliki peranan yang sangat penting dalam perekonomian nasional, antara lain sebagai sumber pendapatan bagi lebih dari 10 juta petani dan menyerap sekitar 1,7 juta tenaga kerja lainnya. Selain itu, KARET juga merupakan salah satu komoditas nonmigas yang secara konsisten nilai ekspornya terus meningkat. Sebanyak 15 provinsi di Indonesia tercatat sebagai sentra produksi KARET nasional, antara lain Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Dari segi pasar, produksi KARET Indonesia terutama ditujukan untuk meningkatkan ekspor serta memenuhi kebutuhan dalam negeri. Tingginya kebutuhan akan komoditas KARET menunjukkan bahwa permintaan bahan baku KARET baik di pasar lokal maupun internasional memiliki prospek yang sangat baik untuk terus dikembangkan.

KARET merupakan komoditas ekspor yang mampu memberikan kontribusi terhadap upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor KARET Indonesia dari tahun ke tahun terus menunjukkan peningkatan. Menurut International Rubber Study Group (IRSG), konsumsi KARET alam dunia selalu mengalami kenaikan setiap tahun. Pada tahun 2004 konsumsi KARET alam dunia mencapai 8,23 juta ton sedangkan produksi dunia sekitar 8,475 juta ton per tahun. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2000, dimana konsumsi dunia sebanyak 7,31 juta ton dengan produksi sebanyak 6,74 juta ton. Antara konsumsi dan produksi KARET dunia semakin menunjukkan adanya defisit produksi, sehingga menjadi potensi bagi Indonesia untuk pengembangan budidaya KARET di masa yang akan datang.

Sebagai salah satu negara penghasil KARET terbesar, Indonesia memiliki peran yang besar dalam percaturan KARET dunia. Bahkan Indonesia merupakan anggota konsorsium KARET internasional IRCO yang turut berperan sebagai pengendali harga KARET alam dunia. Selain Indonesia, anggota IRCO lainnya adalah Malaysia dan Thailand yang juga merupakan produsen utama KARET alam. Selanjutnya IRCO juga berusaha menggaet Vietnam untuk memperkuat peranan IRCO dalam mengendalikan harga KARET dunia.

Artikel Terkait:

PEREMAJAAN DAN PERLUASAN PERKEBUNAN KARET dalam Tuntutan Peremajaan Perkebunan Karet RakyatKomoditi Karet sebagai sumber devisa negara, Peluang Usaha Perkebunan KaretKINERJA INDUSTRI KARET INDONESIA Ketersediaan Lahan Perkebunan KaretRevitalisasi dan Peremajaan Perkebunan KaretDukungan Kebijakan dalam Revitalisasi Perkebunan Karet

Peluang Usaha UKM

Sabtu, 01 Oktober 2011

MENGGALI KHASIAT TEMULAWAK SEBAGAI SEBUAH PELUANG USAHA

Kemajuan jaman tidak berarti meninggalkan budaya dan tradisi leluhur, sebagai salah satu contoh nyata adalah penggunaan obat dan jamu tradisional. Di samping itu ada kecenderungan masyarakat untuk kembali menggunakan bahan-bahan tradisional untuk pengobatan setelah munculnya berbagai macam gangguan penyakit akibat penggunaan bahan-bahan kimia. Salah satu bahan tradisional yang digunakan adalah Temulawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB). Temulawak merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Di daerah Jawa Barat temulawak disebut sebagai koneng gede sedangkan di Madura disebut sebagai temu lobak. Kawasan Indo-Malaysia merupakan tempat dari mana temulawak ini menyebar ke seluruh dunia. Saat ini tanaman ini selain di Asia Tenggara dapat ditemui pula di Cina, IndoCina, Bardabos, India, Jepang, Korea, di Amerika Serikat dan Beberapa negara Eropa.

Sebagai tambahan informasi berikut klasifikasi Temulawak dalam ilmu botani :

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Ordo : Zingiberales

Keluarga : Zingiberaceae

Genus : Qurcuma

Spesies : Qurcuma xanthorrhiza ROXB.

Tanaman terna berbatang semu dengan tinggi hingga lebih dari 1m tetapi kurang dari 2m, berwarna hijau atau cokelat gelap. Akar rimpang terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat, berwarna hijau gelap. Tiap batang mempunyai daun 2 – 9 helai dengan bentuk bundar memanjang sampai bangun lanset, warna daun hijau atau cokelat keunguan terang sampai gelap, panjang daun 31 – 84cm dan lebar 10 – 18cm, panjang tangkai daun termasuk helaian 43 – 80cm. Perbungaan lateral, tangkai ramping dan sisik berbentuk garis, panjang tangkai 9 – 23cm dan lebar 4 – 6cm, berdaun pelindung banyak yang panjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga. Kelopak bunga berwarna putih berbulu, panjang 8 – 13mm, mahkota bunga berbentuk tabung dengan panjang keseluruhan 4.5cm, helaian bunga berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan ujung yang berwarna merah dadu atau merah, panjang 1.25 – 2cm dan lebar 1cm.

Di Indonesia satu-satunya bagian yang dimanfaatkan adalah rimpang temulawak untuk dibuat jamu godog. Rimpang ini mengandung 48-59,64 % zat tepung, 1,6-2,2 % kurkumin dan 1,48-1,63 % minyak asiri dan dipercaya dapat meningkatkan kerja ginjal serta anti inflamasi. Manfaat lain dari rimpang tanaman ini adalah sebagai obat jerawat, meningkatkan nafsu makan, anti kolesterol, anti inflamasi, anemia, anti oksidan, pencegah kanker, dan anti mikroba.

Dengan khasiat dan manfaat temulawak yang sudah teruji, maka jenis rimpang satu ini sudah menjadi bahan kebutuhan rutin bagi usaha rumahan maupun berbagai industri besar seperti industri obat-obatan, produk kecantikan dsb. Oleh karena itu budidaya temulawak selalu memiliki tempat tersendiri sebagai sebuah peluang usaha yang berprospek cerah.

manfaat temulawak (10), khasiat temulawak (8), manfaat temulawak sebagai obat (3), khasiyat temu lawak (3), temulawak sebagai peluang usaha (2), temulawak sebagai anti radang (1), Temulawak (Curcuma xanthorrhiza antikolesterol (1), temulawak sebagai obat jerawat (1), temulawak (1), prospek temulawak (1), PROSPEK BISNIS temulawak (1), proposal temulawak terhadap nafsu makan (1), manfaat temulawak untuk meningkatkan nafsu makan (1), bertanam temulawak cerah (1), manfaat temu lawak (1), manfaat nanas (1), klasifikasi temulawak (1), khasiat temulawak membunuh jamur (1), khasiat temulawak 2011 (1), kegunaan DAN KHASIAT CURCUMA XANTHORRHIZA (1), industri pengguna temulawak (1), usaha rumahan produk kecantikan (1)

Artikel Terkait:

Mengenal Apel Sebagai Sebuah Peluang UsahaMENGENAL TANAMAN SALAK SEBUAH PELUANG USAHAPELUANG USAHA BUDIDAYA JAHEKomoditi Karet sebagai sumber devisa negara, Peluang Usaha Perkebunan KaretMemulai Bisnis , Sebuah Ilustrasi

Peluang Usaha UKM