Tampilkan postingan dengan label DALAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DALAM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Januari 2014

Peluang Usaha Budidaya Melon Dasar Umum dalam Budidaya Melon

Pustaka Dunia


Peluang Usaha Budidaya Melon Dasar Umum dalam Budidaya Melon : Salah satu buah yang sangat di kenal di Indonesia adalah buah melon. Pada awalnya melon masih di anggap buah kelas atas / buah mahal. Hal ini karena melon masih merupakan buah import yang masuk ke Indonesia dengan jumlah terbatas, sehingga harga saat itu masih terlalu tinggi untuk masyarakat umum di Indonesia.


Teknologi Budidaya MelonTeknik-Budidaya-Melon.gif : Saat ini teknologi budidaya melon sudah di kuasai oleh para pelaku usaha pertanian. Berangsur-angsur buah melon sudah menjadi buah umum di konsumsi. Peran pelaku usaha pedagang buah keliling mempercepat penetrasi buah melon di masyarakat. Penjualan secara eceran "potongan kecil" membuat harga buah melon menjadi sangat resonable dan dapat di terima oleh masyarakat.


Penguasaan teknologi budidaya melon yang dikuasai pelaku usaha pertanian merupakan adaptasi dari budidaya buah semangka. Karena buah semangka sudah dikenal lebih dahulu. Perlu sebuah upaya pengembangan teknologi budidaya melon untuk menghasilkan produktivitas tinggi yang berdampak pada semakin baiknya ekonomi pelaku usaha budidaya melon.


Pemilihan Lokasi Budiaya Melon : Pembudidayaan Melon membutuhan lahan lokasi yang luas hal ini karena Melon masuk pada kategori tanaman vining (merambat). Hakikatnya tanaman merambat bentang tanaman memerlukan ruang yang cukup agar cahaya matahari dapat mencukupi kebutuhan tanaman melon. Budidaya tanaman melon tidak akan optimal jika di lakukan di lahan yang sempit. oleh sebab itu pelaku usaha pertanian / pembudidaya melon sebaiknya memilih lokasi yang luas atau sesuai dengan kebutuhan minimal tanaman melon.


Melon dapat tumbuh dengan baik dengan cara penanaman dalam di tanah yang berpasir atau tanah lempung berpasir. Untuk tanah berat / heavy soil yang mengandung banyak tanah liat dapat berakibat pada pertumbuhan melon yang lambat dengan buah yang cenderung kecil tidak subur dan berdampak pada produktivitas akhir usaha. Melon sangat menyukai tanah dengan PH Netral / tingkat keasaman netral. Untuk tanah yang cenderung asam membuat sistem pembungaan yang tidak kuat dan mudah gugur.


Soil Preparation / Persiapan Tanah / Persiapan Lahan dalam Budidaya Melon : Langkah pertama dalam budiaya melon adalah dengan mencangkul atau membajak tanah dengan kedalaman antara 10 cm s/d 15 cm. Penambahan pupuk kandang / kompos di perlukan untuk memperkaya unsur hara yang terkandung dalam tanah. Rata-rata kebutuhan pupuk kandang / kompos per hektar berkisar 2 ton s/d 4 ton. Penambahan pupuk kandang / pupuk kompos harus tertutup sempurna dengan tanah untuk mengoptimalkan penyerapan unsur hara oleh tanaman.


Karena tanaman melon membutuhkan sistem pengairan yang baik tidak terendam / terlalu banyak air perlu pembuatan gundukan tanah yang lebih tinggi dengan kisaran 6 cm s/d 15 cm di atas rata-rata tanah. Tanah berat dengan kandungan tanah liat yang tinggi sebaiknya dilakukan pengemburan tanah lebih baik dengan gundukan yang lebih tinggi s/d 15 cm. Satu kelompok baris tanaman di pisahkan dengan jarak berkisar 3 meter. Penggunaan plastik mulsa membantu suhu tanah untuk tetap hangat dan mempercepat proses pertumbuhan tanaman.


The post Peluang Usaha Budidaya Melon Dasar Umum dalam Budidaya Melon appeared first on www.PustakaDunia.com. Pustaka Dunia


www.PustakaDunia.com

Jumat, 07 Oktober 2011

HAMA, PENYAKIT DAN SERANGAN GULMA DALAM BUDIDAYA TANAMAN SALAK

Jenis hama yang umumnya menyerang tanaman salak antara lain :

Kutu wol /putih (Cerataphis sp.)

Hama ini bersembunyi di sela-sela buah.

Kumbang penggerek tunas (Omotemnus sp.)

Kumbang penggerek batang

Menyerang ujung daun yang masih muda (paling muda), kemudian akan masuk ke dalam batang. Hal ini tidak menyebabkan kematian tanaman, tetapi akan tumbuh anakan yang banyak di dalam batang tersebut.

Pengendalian: dimatikan atau dengan cara meneteskan larutan insektisida (Diazenon) dengan dosis 2 cc per liter pada ujung daun yang terserang atau dengan cara menyemprot. Dalam hal ini diusahakan insektisida dapat masuk ke dalam bekas lubang yang digerek. Memasukkan kawat yang ujungnya lancip ke dalam lubang yang dibuat kumbang hingga mengenai hama.

Babi hutan, tupai, tikus dan luwak

Pengendalian:

untuk memberantas babi hutan, dilaksanakan dengan penembakan khusus, atau memagari kebun salak dengan salak-salak jantan yang rapat. Akan lebih baik lagi kalau memagari kebun salak dengan kawat berduriuntuk memberantas Tikus, digunakan Zink phosphit, klerat dan lain-lainuntuk memberantas Luwak dan Tupai, dapat digunakan umpan buah pisang yang dimasuki Furadan 3 G. Caranya: buah pisang dibelah, kurang lebih 0,5 gram Furadan dimasukkan ke dalamnya, kemudian buah pisang tersebut dijahit dan dijadikan umpan.Penyakit yang sering ditemui menyerang tanaman salak adalah

Sebangsa cendawan putih

Gejala: busuknya buah. Buah yang terserang penyakit ini kualitasnya jadi menurun, karena warna kulit salak jadi tidak menarik.

Pengendalian: mengurangi kelembaban tanah, yaitu mengurangi pohon-pohon pelindung.

Noda hitam

Penyebab: cendawan Pestalotia sp.

Gejala: adanya bercak-bercakhitam pada daun salak.

Busuk merah (pink)

Penyebab: cendawan Corticium salmonicolor.

Gejala: adanya pembusukan pada buah dan batang.

Pengendalian: tanaman yang sakit dan daun yang terserang harus dipotong dan dibakar di tempat tertentu.

Di beberapa tempat di Pulau Jawa, lahan salak dibangun di bekas persawahan. Sehingga otomatis gulma yang merajai kebun adalah gulma-gulma yang biasa terdapat di sawah. Karena lahan sawah yang biasa tergenang air dikeringkan dan di bumbun tanahnya maka gulma yang mampu bertahan adalah gulma berdaun sempit dan tumbuh menjalar yang sedikit sekali terdapat di sawah. Gulma yang berbatang kurus tegak, berdaun panjang yang umumnya di persawahan kurang mampu bertahan. Itulah sebabnya mengapa gulma di lahan bekas persawahan relatif lebih sedikit. Pengendalian secara manual dengan di kored atau dicangkul pun sudah memadai.

Pemberantasan gulma secara kimia di kebun-kebun salak belum lazim dilaksanakan. Untuk lahan yang tidak seberapa luas, para petani masih menggunakan cara manual (mencabuti rumput-rumputan dengan tangan, di kored atau dicangkul). Bila lahan salak cukup luas, serta baru dibuka, gulma yang terdapat tentu banyak sekali dan sulit diberantas hanya dengan cara manual. Untuk situasi seperti ini perlu menggunakan herbisida, sebab biaya tenaga kerja relatif murah dan hasilnya lebih cepat. Reaksi bahan kimia dalam membunuh tanaman liar juga sangat cepat. Herbisida memiliki pengruh negatif, sebab racun yang dikandungnya dapat membahayakan mahluk hidup lain termasuk ternak dan manusia. Herbisida yang akan digunakan perlu sesuai dengan jenis gulma yang akan diberantas. Pilihan yang kurang tepat akan memboroskan biaya.

Gulma dari golongan rumput-rumputan dapat dibasmi dengan herbisida Gramoxone, Gesapas, Basta atau Diuron. Dari golongan teki-tekian dapat diberantas dengan Goal. Alang-alang dapat dibasmi dengan Round-up atau Sun-up. Sedangkan tanaman yang berdaun lebar dapat diatasi dengan Fernimine. Ada juga herbisida yang dapat memberantas beberapa jenis gulma.

GANGGUAN HAMA PADA TANAMAN SALAK (5), hama penyakit salak (4), hama gulma dan penyakit (2), pemberantas gulma organik (2), gulma (2), pengendalian tupai (2), penyakit penyakit pada salak (2), penyebab gulma (1), jenis penyakit pada tumbuhan (1), keripik gulma (1), lukisan dari kulit salak (1), tip menberantas hama tupai (1), mengendalika cendawan pada tanaman hutan (1), tanaman lain di kebun salak (1), pemberantas hama gulma dan penyakit tanaman (1), pengendalian penyakit pada tanaman salak (1), serangan hama penyakit dan gulma (1), reaksi kimia penyakit pada tanaman (1), racun membunuh tanaman alang-alang dan gulama (1), perkembangbiakan tanaman berdaun lebar (1), penyakit yang sering menyerang tanaman pisang (1), umpan untuk tupai (1), hama penyakit dan gulma pada tumbuhan (1), apa itu hama tanaman penyakit tanaman apa itu gulma (1), artikel penyebab pembusukan pada buah pisang (1), banyaknya hama yang menyerang tanaman budidaya (1), bercak daun salak (1), bertanam salak home industri (1), budidaya pohon buah (1), Cara menyemprot gulma (1), gangguan hama pada gulma (1), gejala gangguan gulma tanaman (1), gejala serangan gulma (1), gulma pada penyakit tanaman pisang (1), gulma pada pisang (1), gulma tanaman (1), Hama Gulma (1), hama gulma dan penyakit tanaman (1), hama pada gulma (1), hama penyakit dan gulma (1), apa bahan kimia untuk mematikan pohon (1)

Artikel Terkait:

Serangan Hama dan Penyakit dalam Usaha Budidaya JagungHAMA DAN PENYAKIT DALAM BUDIDAYA TANAMAN TEMULAWAKTeknik Budidaya Nenas/Nanas : Pengendalian GulmaTEKNIK PEMBIBITAN DALAM BUDIDAYA TANAMAN SALAKJenis Ganguan dan Penyakit dalam Usaha Budidaya Tanaman Kopi

Peluang Usaha UKM

Senin, 03 Oktober 2011

ISU DAN PERMASALAHAN DALAM INDUSTRI KOPI

KOPI Sumber dari Departemen Perindustrian menyebutkan bahwa permasalahan perKOPIan di Indonesia masih seputar pengadaan kualitas bahan baku dan penerapan teknologi pengolahan KOPI itu sendiri. Berhubung perkebunan KOPI di Indonesia masih didominasi oleh perkebunan rakyat, dimana berdasarkan data 2006 mencapai 96% ( 1,21 juta ha dari total 1,26 juta ha), maka masalah pengetahuan penanganan pasca panen masih merupakan kendala yang serius. Petani masih relatif menangani pasca panen secara tradisional. Akibatnya mutu KOPI sebagai bahan baku pada industri pengolahan KOPI relatif rendah, atau paling tidak sulit diharapkan kekonsistenan kualitas. Memang, pada sentra-sentra produksi KOPI tertentu, dimana telah hadir produsen KOPI olahan besar seperti PT Nestle Indonesia di Lampung, penangan KOPI pasca panen relatif lebih baik dan terkendali.

Komposisi jenis tanaman KOPI di Indonesia masih didominasi oleh KOPI robusta (93 persen) dari pada arabika (7%), padahal permintaan KOPI arabika dunia jauh lebih besar dibandingkan KOPI robusta. Demikian pula dari segi harga, harga KOPI arabika jauh lebih mahal dari pada KOPI robusta. Usaha-usaha ke arah diversifikasi tanaman tidaklah mudah, karena terhadang oleh kesesuaian lahan terhadap tanaman KOPI arabika yang hanya sesuai untuk dataran tinggi (di atas 600 meter dari permukaan laut/dpl). Pemaksaan penanaman di dataran rendah hanya mengakibatkan resiko kegagalan yang tinggi akibat serangan penyakit layu yang merupakan musuh alami KOPI arabika di Indonesia. Sedangkan, sejauh ini belum terlihat hasil pengembangan dan penelitian yang signifikan dalam menghasilkan jenis KOPI arabika yang sesuai tumbuh untuk daerah dataran rendah. Ini tentunya tantangan ke depan terhadap daya kratifitas anak-anak bangsa dalam menghasilkan varietas KOPI arabika baru.

Isu teknologi (mesin dan peralatan) produksi biji KOPI mulai dari pengeringan, pengupasan, dan sortasi masih merupakan kendala klasik yang dihadapi oleh usaha industri skala kecil dan menengah. Juga keterbatasan pada penguasaan teknologi proses pada tahap roasting. Tak mengherankan ke depan, kalau industri KOPI skala kecil dan menengah ini pertumbuhannya stagnan atau bahkan makin terpuruk dan gulung tikar, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, karena hantaman persaingan yang tidak seimbang dengan produsen besar dan berskala nasional dan bahkan internasional ekspor), karena didukung oleh teknologi canggih dari Jerman dan teknologi dari Negara-negara maju lainnya.

Dengan kapasitas produksi KOPI bubuk bermerek PT Santos Jaya Abadi saja yang saat ini mencapai 15 ton per jam, sebagaimana telah diulas, jika bekerja dengan 3 shift per hari ( 1 shift = 7 jam) pada total waktu kerja 300 hari per tahun, maka produksi perusahaan ini saja mencapai 80 persen atau 103.950 ton) dari total produksi seluruh KOPI bubuk di Indonesia pada 2008 yang sebesar kurang lebih 130.000 ton.

Demikian pula dengan kapasitas produksi KOPI instan oleh tiga produsen terbesarnya dalam negeri yang mencapai 18.600 ton per tahun. Artinya, jika ketiga produsen ini bekerja dalam kapasitas penuh maka praktis produksi mereka melebihi kebutuhan dalam negeri yang masih berkutat pada kisaran 11.000 ton per tahun.

Isu lainnya di lapangan adalah tingginya biaya transportasi di Indonesia, yang berdampak kepada tingginya harga jual produk KOPI Indonesia, khususnya untuk pemasaran ke luar negeri. Kita misalnya sudah kalah bersaing dengan harga KOPI dari Vietnam pada tingkat kualitas KOPI yang sama.

Produksi KOPI mix ke depan diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan gaya hidup, tren dan kepraktisan yang menyertai konsumsi dari pada KOPI ini. Sayangnya, dampak langsung secara positip pertumbuhan produksi ini terhadap konsumsi KOPI Indonesia relati kecil, karena proporsi KOPI yang relatif kecil dibandingkan dengan content lainnya terutama, gula dan susu.

Artikel Terkait:

PETA PRODUSEN KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)KUNCI SUKSES USAHA / INDUSTRI KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI)PERKEMBANGAN PRODUKSI KOPI DI INDONESIAKARAKTERISTIK USAHA INDUSTRI KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)Potensi Usaha Perkebunan Kopi dalam Pasar Lokal dan Internasional

Peluang Usaha UKM

Minggu, 02 Oktober 2011

TEKNIK PEMBIBITAN DALAM BUDIDAYA TANAMAN SALAK

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mengusahakan tanaman salak adalah penggunaan bibit unggul dan bermutu. Tanaman salak merupakan tanaman tahunan, karena itu kesalahan dalam pemakaian bibit akan berakibat buruk dalam pengusahaannya, walaupun diberi perlakuan kultur teknis yang baik tidak akan memberikan hasil yang diinginkan, sehingga modal yang dikeluarkan tidak akan kembali karena adanya kerugian dalam usaha tani. Untuk menghindari masalah tersebut, perlu dilakukan cara pembibitan salak yang baik. Pembibitan salak dapat berasal dari biji (generatif) atau dari anakan (vegetatif).

Pembibitan secara generatif adalah pembibitan dengan menggunakan biji yang baik diperoleh dari pohon induk yang mempunyai sifat-sifat baik, yaitu: cepat berbuah, berbuah sepanjang tahun, hasil buah banyak dan seragam, pertumbuhan tanaman baik, tahan terhadap serangan hama dan penyakit serta pengaruh lingkungan yang kurang menguntungkan.

a) dapat dikerjakan dengan mudah dan murah

b) diperoleh bibit yang banyak

c) tanaman yang dihasilkan tumbuh lebih sehat dan hidup lebih lama

d) untuk transportasi biji dan penyimpanan benih lebih mudah

e) tanaman yang dihasilkan mempunyai perakaran kuat sehingga tahan rebah dan kekeringan

f) memungkinkan diadakan perbaikan sifat dalam bentuk persilangan.

a) kualitas buah yang dihasilkan tidak persis sama dengan pohon induk karena mungkin terjadi penyerbukan silang

b) agak sulit diketahui apakah bibit yang dihasilkan jantan atau betina.

Untuk mendapatkan bibit yang baik harus dilakukan seleksi terhadap biji yang akan dijadikan benih. Syarat-syarat biji yang akan dijadikan benih :

Biji berasal dari pohon induk yang memenuhi syarat.Buah yang akan diambil bijinya harus di petik pada waktu cukup umur.Mempunyai daya tumbuh minimal 85 %.Besar ukuran biji seragam dan tidak cacat.Biji sehat tidak terserang hama dan penyakit.Benih murni dan tidak tercampur dengan kotoran lain.Bibit tanaman salak dapat diambil dari biji salak ataupun dari anakan tanaman salak.  Metode penyiapan bibit tanaman salak antara lain :

Bibit dari Biji:

Biji salak dibersihkan dari sisa-sisa daging buah yang masih melekat.Rendam dalam air bersih selama 24 jam, kemudian dicuci.Bibit dari Anakan:

Pilih anakan yang baik dan berasal dari induk yang baikSiapkan potongan bambu, kemudian diisi dengan media tanahTeknik/metode penyemaian bibit tanaman salak dalam budidaya tanaman salak adalah :

Bibit dari Biji:

Biji salak yang telah direndam dan dicuci, masukkan kedalam kantong plastik yang sudah dilubangi (karung goni basah), lalu diletakkan di tempat teduh dan lembab sampai kecambah berumur 20-30 hariSatu bulan kemudian diberi pupuk Urea, TSP dan KCl, masing-masing 5 gram, tiap 2-3 minggu sekaliAgar kelembabannya terjaga, lakukan penyiraman setiap hariBibit dari Anakan dengan pesemaian bak kayu:

Buat bak kayu dengan ukuran tinggi 25 cm, lebar dan panjang disesuaikan dengan kebutuhanDiisi dengan tanah subur dan gembur setebal 15-20 cmDiatas tanah diiisi pasir setebal 5-10 cmArah pesemaian Utara Selatan dan diberi naungan menghadap ke TimurBenih direndam dalam larutan hormon seperti Atonik selama 1 jam, konsentrasi larutan 0,01-0,02 cc/liter airTanam biji pada bak pesemaian dengan jarak 10 x 10 cmArah biji dibenamkan dengan posisi tegak, miring/rebah dengan mata tunas berada dibawah.Untuk pembibitan dari biji, media pembibitan adalah polybag dengan ukuran 20 x 25 cm yang diisi dengan tanah campur pupuk kandang dengan perbandingan 2:1.Setelah bibit atau kecambah berumur 20-30 hari baru bibit dipindahkan ke polibag.Pembibitan dengan sistem anakan, bambu diletakkan tepat di bawah anakan salak, kemudian disiram setiap hari. Setelah 1 bulan akar telah tumbuh dan anakan dipisahkan dari induknya, kemudian ditanam dalam polybag. Pupuk Urea, TSP, KCl diberikan 1 bulan sekali sebanyak 1 sendok teh.Untuk bibit dari biji, setelah bibit salak berumur 4 bulan baru dipindahkan ke lahan pertanian. Untuk persemaian dari anakan, setelah 6 bulan bibit baru bisa dipindahkan ke lapangan.

masalah perkebunan salak (5), pembibitan tanaman salak (4), pohon salak (3), cara perbanyakan bibit salak (3), Syarat biji yang akan dijadikan benih (3), bertanam salak (3), CARA PEMBIBITAN BIJI (2), metode peluang usaha tanaman (2), cara budidaya pohon salak (2), pembibitan biji salak (1), pembibitan generatif (1), pembibitan pada tanaman (1), mengapa pembibitan tanaman dengan cara bibit biji? (1), pembudidayaan pohon salak (1), pengaruh lingkungan yang kurang bersih terhadap tanaman (1), persyaratan biji yang akan di benih (1), tehnik pembibitan budidaya tanaman teh (1), tehnik pemmbibitan tanaman dengan biji (1), TEKNIK PEMBIBITAN DALAM BUDIDAYA TANAMAN SALAK (1), artikel pembiakan vegetatif tanaman tahunan (1), makalah pengolahan benih dan penyimpanan benih salak (1), macam macam biji yang akan dijadikan benih (1), bagaimana cara pembibitan salak yang baik (1), benih salak (1), bibit salak unggul (1), biji dan buah (1), CARA PEMBIBITAN PADA TANAMAN (1), cara pembibitan tanaman berbiji (1), cara pembibitan yang baik (1), cara pembibitan#sclient=psy (1), faktor yang harus diperhatikan dalam pembibitan tanaman (1), fase pertumbuhan salak dari biji (1), generatif pada salak (1), kekurangan pembibitan secara generatif (1), kultur salak (1), macam macam biji yang akan di jadikan benih (1), teknik pembibitan tanaman dengan cara biji (1)

Artikel Terkait:

PENGOLAHAN LAHAN DAN TEKNIK PENANAMAN BUDIDAYA SALAKPEMELIHARAAN TANAMAN BUDIDAYA TANAMAN SALAKSYARAT PERTUMBUHAN BUDIDAYA TANAMAN SALAKHAMA, PENYAKIT DAN SERANGAN GULMA DALAM BUDIDAYA TANAMAN SALAKTeknis Budidaya Nenas/Nanas : Pembibitan dan Perbanyakan Tanaman

Peluang Usaha UKM

Sabtu, 01 Oktober 2011

TEKNIK PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN TANAMAN DALAM BUDIDAYA TEMULAWAK

Setelah bibit tanaman temulawak dengan kualitas yang baik tersedia serta media penanamannya disiapkan, untuk memperoleh hasil budi daya temulawak dengan kualitas dan kuantitas yang maksimal masih ada beberapa tahapan yang tidak kalah pentingnya, yakni penanaman dan pemeliharaan tanaman temulawak. Sebagai panduan berikut uraian mengenai teknik penanaman dan pemeliharaan dalam budi daya tanaman temulawak :

Agar tumbuhnya tanaman temulawak dalam budidaya temulawak dapat seragam dan tertata dengan baik , perlu dilakukan teknik penanaman sebagai berikut :

Penanaman dilakukan secara monokultur dan lebih baik dilakukan pada awal musim hujan kecuali pada daerah yang memiliki pengairan sepanjang waktu. Fase awal pertumbuhan adalah saat di mana tanaman memerlukan banyak air.

Lubang tanam dibuat di atas bedengan/petakan dengan ukuran lubang 30 x 30 cm dengan kedalaman 60 cm. Jarak antara lubang adalah 60 x 60 cm.

Satu bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan posisi mata tunas menghadap ke atas. Setelah itu bibit ditimbun dengan tanah sedalam 10 cm.

Masa tanam temulawak yaitu pada awal musim hujan untuk masa panen musim kemarau mendatang. Penanaman pada di awal musim hujan ini memungkinkan untuk suplai air yang cukup bagi tanaman muda yang memang sangat membutuhkan air di awal pertumbuhannya.

Pemeliharaan tanaman temulawak dilakukan agar tanaman dapat tumbuh dengan optimal dengan menghilangkan gangguan seperti tanaman liar serta beberapa perlakuan lain. Beberapa cara pemeliharaan yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut :

Tanaman yang rusak/mati diganti oleh bibit yang sehat yang merupakan bibit cadangan.

Penyiangan rumput liar dilakukan pagi/sore hari yang tumbuh di atas bedengan atau petak bertujuan untuk menghindari persaingan makanan dan air. Penyiangan pertama dan kedua dilakukan pada dua dan empat bulan setelah tanam (bersamaan dengan pemupukan). Selanjutnya penyiangan dapat dilakukan segera setelah rumput liar tumbuh. Untuk mencegah kerusakan akar, rumput liar disiangi dengan bantuan kored/cangkul dengan hati-hati.

Kegiatan pembubunan perlu dilakukan pada pertanaman rimpang-­rimpangan untuk memberikan media tumbuh rimpang yang cukup baik. Pembubunan dilakukan dengan menimbun kembali area perakaran dengan tanah yang jatuh terbawa air. Pembubunan dilakukan secara rutin setelah dilakukan penyiangan.

Seperti pada umumnya proses pemupukan pada tanaman lain, pemupukan dapat dilakukan secara organik ataupun konvensional. Keduanya akan kita bahas lebih lanjut berikut ini :

Pada pertanian organic yang tidak menggunakan bahan kimia termasuk pupuk buatan dan obat-obatan, maka pemupukan secara organic yaitu dengan menggunakan pupuk kompos organic atau pupuk kandang dilakukan lebih sering dibanding kalau kita menggunakan pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organic ini dilakukan pada awal pertanaman pada saat pembuatan guludan sebagai pupuk dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yang ditebar dan dicampur tanah olahan. Untuk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10 bulan. Adapun dosis pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman. Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan setelah kegiatan penyiangan dan bersamaan dengan kegiatan pembubunan.

Pemupukan Awal

Pupuk dasar yang diberikan saat tanam adalah SP-36 sebanyak 100 kg/ha yang disebar di dalam larikan sedalam 5 cm di antara barisan tanaman atau dimasukkan ke dalam lubang sedalam 5 cm pada jarak 10 cm dari bibit yang baru ditanam. Larikan atau lubang pupuk kemudian ditutup dengan tanah. Sesaat setelah pemupukan tanaman langsung disiram untuk mencegah kekeringan tunas.

Pemupukan Susulan

Pada waktu berumur dua bulan, tanaman dipupuk dengan pupuk kandang sebanyak 0,5 kg/tanaman (10-12,5 ton/ha), 95 kg/ha urea dan 85 kg/ha KCl. Pupuk diberikan kembali pada waktu umur tanaman mencapai empat bulan berupa urea dan KCl dengan dosis masing-masing 40 kg/ha. Pupuk diberikan dengan cara disebarkan merata di dalam larikan pada jarak 20 cm dari pangkal batang tanaman lalu ditutup dengan tanah.

Pengairan dilakukan secara rutin pada pagi/sore hari ketika tanaman masih berada pada masa pertumbuhan awal. Pengairan selanjutnya ditentukan oleh kondisi tanah dan iklim. Biasanya penyiraman akan lebih banyak dilakukan pada musim kemarau. Untuk menjaga pertumbuhan tetap baik, tanah tidak boleh berada dalam keadaan kering.

Waktu Penyemprotan Pestisida

Penyemprotan pestisida dilakukan jika telah timbul gejala serangan hama penyakit.

Sedapat mungkin pemulsaan dengan jerami dilakukan diawal tanam untuk menghindari kekeringan tanah, kerusakan struktur tanah (menjadi tidak gembur/padat) dan mencegah tumbuhnya gulma secara berlebihan. Jerami dihamparkan merata menutupi permukaan tanah di antara lubang tanaman.

teknik penanaman dan pemeliharan tanaman budidaya anggrek (29), pemberian pupuk kompos pada jagung (9), TEKHNIK PEMBUBUNAN (1), rumput liar disiangi (1), pentingnya pupuk untuk tanaman temulawak (1), penanaman dan pemeliharaan tanaman jagung (1), materi tentang penyiangan pada tanaman padqa umumnya (1), cara tumbuh TEMU LAWAK (1), cara penanaman tanaman obat yang baik (1), cara pembubunan kopi (1)

Artikel Terkait:

TEKNIK PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN TANAMAN DALAM BUDIDAYA RAMBUTANTeknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Budidaya NangkaTEKNIK PENANAMAN SERTA PEMELIHARAAN DALAM BUDI DAYA MELONPENGOLAHAN MEDIA TANAMAM DAN TEKNIK PENANAMAN DALAM BUDIDAYA MANGGISMEDIA TANAM DAN TEKNIK PENANAMAN DALAM BUDIDAYA SAWO

Peluang Usaha UKM

TEKNIK DASAR BUDIDAYA TANAMAN KARET DALAM USAHA BUDIDAYA TANAMAN KARET

karet SYARAT TUMBUH TANAMAN KARET : Tanaman karet umumya memerlukan waktu 5-6 tahun hingga siap untuk dapat disadap. Puncak produksi biasanya tercapai pada umur antara 10-15 tahun. Pada dasarnya, tanaman karet memerlukan persyaratan terhadap kondisi iklim untuk menunjang pertumbuhan dan keadaan tanah sebagai media tumbuhnya.

Iklim

Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 150LS dan 150LU. Di luar zone tersebut biasanya pertumbuhan tanaman karet agak terhambat sehingga masa awal produksinya juga terlambat.

Umumnya tanaman karet tumbuh optimal pada dataran rendah dengan ketinggian 200 m dari permukaan laut. Ketinggian lebih dari 600 m di atas permukaan laut tidak cocok untuk tumbuh tanaman karet. Korelasi antara ketinggian tempat dan umur sadap dapat dilihat pada tabel berikut.

Korelasi antara ketinggian tempat dan umur sadap tanaman karet

Suhu optimal yang diperlukan tanaman karet berkisar antara 240C sampai dengan 280C. Kelembaban tinggi sangat diperlukan untuk pertumbuhannya dengan lama penyinaran matahari berkisar 5 – 7 jam per hari.

Tanaman karet membutuhkan curah hujan optimal antara 1.500 – 2.000 mm/ tahun dengan toleransi curah hujan 2.500 – 4.000 mm/ tahun dan hari hujan berkisar antara 100 sampai dengan 150 hari hujan/ tahun. Namun, produksi karet akan berkurang apabila sering terjadi hujan pada pagi hari. Selain itu, kecepatan angin yang terlalu kencang pada umumnya kurang baik untuk tanaman karet.

TANAH MEDIA TANAM

Berbagai jenis tanah dapat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet baik tanah vulkanis muda dan tua, bahkan pada tanah gambut kurang dari 20 cm. Tanah vulkanis mempunyai sifat fisik yang cukup baik terutama struktur, tekstur, sulum, kedalaman air tanah, aerasi dan drainasenya, tetapi sifat kimianya secara umum kurang baik karena kandungan haranya yang rendah. Hasil karet maksimal didapatkan jika ditanam di tanah subur, berpasir, dapat melewatkan air dan tidak berpadas (kedalaman padas yang dapat ditolerir dalah 2-3 meter).

Tanah alluvial biasanya cukup subur, tetapi sifat fisiknya terutama drainase dan aerasenya kurang baik. Reaksi keasaman tanah berkisar antara pH 3,0 – pH 8,0, tetapi tidak sesuai pada pH < 3,0 dan pH > 8,0. Tanah ultisol yang kurang subur juga sebenarnya bisa ditanami karet, namun membutuhkan pemupukan dan pengelolaan yang lebih baik.

Sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet pada umumnya antara lain: Sulum tanah sampai 100 cm, tidak terdapat batu-batuan dan lapisan cadas; Aerase dan drainase cukup;

Tekstur tanah remah, poreus dan dapat menahan air;Struktur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir;Tanah bergambut tidak lebih dari 20 cm;Kandungan hara NPK cukup dan tidak kekurangan unsur hara mikro; Reaksi keasaman tanah berkisar pada pH 4,5 – pH 6,5;REKOMENDASI JARAK TANAM

Untuk mendapatkan pertumbuhan dan produksi yang optimal, penanam karet perlu pula memperhatikan jarak tanamnya. Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, Departemen Pertanian (2008), merekomendasikan ukuran lobang tanam pada penanaman karet yaitu 45 x 45 x 30 cm untuk tanah ringan dan

60 x 60 x 40 cm untuk tanah berat. Sedangkan rekomendari jarak tanam, kerapatan tanam dan jumlah populasi bibit karet per hektar lahan terdapat beberapa alternatif seperti disajikan pada tabel berikut.

Alternatif jarak tanam dan populasi bibit karet per hektar

Sumber: Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air, Departemen Pertanian (2008).

Artikel Terkait:

Teknik Budidaya Tanaman Karet dalam Usaha Budidaya Tanaman Karet (tahap pembangunan kebun)Teknik Budidaya Tanaman Karet dalam Usaha Budidaya Tanaman Karet (tahap persiapan)KARAKTERISTIK TANAMAN KARET DALAM BUDIDAYA TANAMAN KARETPERSYARATAN TUMBUH TANAMAN KARET DALAM BUDIDAYA TANAMAN KARETKLON UNGGUL TANAMAN KARET DALAM BUDIDAYA TANAMAN KARET

Peluang Usaha UKM

Kamis, 29 September 2011

JENIS-JENIS KARET ALAM DALAM USAHA AGROINDUSTRI KARET

peluangusahakaret Jenis Karet Alam : Getah karet alam yang dihasilkan perkebunan dan diperdagangkan terdiri dari berbagai bentuk, yaitu berupa getah cair (lateks), bongkahan, lembaran, dan serpihan. Nantinya produk karet ini akan menjadi bahan baku bagi industri hilir. Karet alam biasa dikelompokkan atas bahan olah karet, lateks pekat, karet bongkah (block rubber), karet spesifikasi teknis atau karet remah (crumb rubber), dan tyre rubber.

Bahan olah karet adalah lateks kebun serta gumpalan lateks kebun yang diperoleh dari pohon karet Hevea brasiliensis. Bahan olah karet kadang dianggap bukan produksi perkebunan besar sehingga disebut bokar (bahan olah karet rakyat), karena umumnya diperoleh dari petani yang mengusahakan kebun karet. Berdasarkan pengolahannya, bahan olah karet terdiri atas empat jenis, yaitu:

Lateks kebun, yaitu cairan getah yang didapat dari bidang sadap pohon karet. Cairan getah ini belum mengalami penggumpalan baik melalui penambahan atau tanpa penambahan antikoagulan (zat pemantap).Sheet angin, yaitu bahan olah karet yang dibuat dari lateks yang sudah disaring dan digumpalkan dengan asam semut, berupa karet sheet yang sudah digiling tetapi belum jadi.Slab tipis, yaitu bahan olah karet yang terbuat dari lateks yang sudah digumpalkan dengan asam semut.Lump segar, yaitu bahan olah karet yang bukan berasal dari gumpalan lateks kebun yang terjadi secara alamiah dalam mangkuk penampung.Dalam perdagangan karet, bahan olah karet umumnya dikenal sebagai karet alam konvensional yang terdiri dari golongan karet sheet dan crepe. Jenis­-jenis karet alam yang tergolong konvensional adalah sebagai berikut:

Ribbed smoked sheet (RSS), yaitu jenis karet berupa lembaran sheet yang mendapat proses pengasapan dengan baik.White crepe dan pale crepe, yaitu jenis crepe yang berwarna putih atau muda, ada yang tebal dan ada pula yang tipis.Estate brown crepe, yaitu jenis crepe yang berwarna coklat dan banyak dihasilkan oleh perkebunan-perkebunan besar atau estate. Jenis ini juga dibuat dari bahan yang kurang baik seperti yang digunakan untuk pembuatan off crepe serta dari sisa lateks, lump atau kogulum yang berasal dari prakoagulasi, dan srap atau lateks kebun yang sudah kering di atas bidang penyadapan.Compo crepe, yaitu jenis crepe yang dibuat dari bahan lump, scrap pohon, potongan-potongan sisa dari RSS atau slab basah.Thin brown crepe remilis, yaitu crepe coklat dan tipis karena digiling ulang.Thick blanket crepes ambers, yaitu crepe banket yang tebal dan berwarna cokelat, biasanya dibuat dari slab basah, sheet tanpa proses pengasapan dan lump serta srap dari perkebunan atau kebun rakyat yang baik mutunya, tetapi scrap tanah tidak boleh digunakan.Flat bark crepe, yaitu karet tanah atau earth rubber, yaitu jenis crepe yang dihasilkan dari scrap karet alam yang belum diolah, termasuk scrap tanah yang berwarna hitam.Pure smoked blanket crepe, yaitu crepe yang diperoleh dari penggilingan karet asap yang khusus berasal dari RSS, termasuk juga block sheet atau sheet bongkah, atau dari sisa pemotongan RSS. Jenis karet lain atau bahan bukan karet tidak boleh digunakan.Off crepe, yaitu crepe yang tidak tergolong bentuk beku atau standar. Biasanya tidak dibuat melalui proses pembekuan langsung dari bahan lateks yang masih segar, melainkan dari contoh-contoh sisa penentuan kadar karet kering, lembaran-lembaran RSS yang tidak baik menggilingnya sebelum diasapi, busa-busa dari lateks, bekas air cucian yang banyak mengandung lateks serta bahan-bahan lain yang jelek.Latek pekat adalah jenis karet yang berbentuk cairan pekat, tidak berbentuk lembaran atau padatan lainnya. Lateks pekat dijual di pasaran ada yang dibuat melalui proses pendadihan atau creamed lateks dan melalui proses pemusingan atau centrifuged lateks. Biasanya lateks pekat banyak digunakan untuk pembuatan bahan-bahan karet yang tipis dan bermutu tinggi seperti sarung tangan karet untuk kesehatan.

Karet bongkah adalah karet remah yang telah dikeringkan dan dikilang menjadi bandela-bandela dengan ukuran yang telah ditentukan. Karet bongkah ada yang berwarna muda dan setiap kelasnya mempunyai kode warna tersendiri.

Karet spesifikasi teknis atau crumb rubber atau juga dikenal sebagai karet remah adalah karet alam yang dibuat khusus sehingga terjamin mutu teknisnya. Penetapan mutu juga didasarkan pada sifat-sifat teknis. Penetapan mutu dan golongan crumb rubber tidak didasarkan atas penilaian visual seperti yang menjadi dasar penentuan golongan mutu pada jenis jenis karet sheet, crepe maupun lateks pekat.

Tyre rubber adalah bentuk lain dari karet alam yang dihasilkan sebagai barang setengah jadi sehingga bisa langsung dipakai oleh konsumen, baik untuk pembuatan ban atau barang yang menggunakan bahan baku karet alam lainnya. 3.5. Kayu karet

Di Indonesia, ketersediaan kayu karet sangat besar dan diharapkan terus meningkat sejalan dengan program peremajaan tanaman karet tua. Oleh karena itu, kayu karet mempunyai prospek yang cerah sebagai bahan baku industri untuk menyubstitusi kayu hutan alam. Selain itu, kayu karet mempunyai sifat-­sifat fisik, mekanis, dan kimia yang setara dengan kayu hutan alam. Pemanfaatan kayu karet antara lain sebagai bahan baku industri meubel (furniture), kayu gergajian bahan bangunan, bahan baku industri bubur kertas (pulp), dan bahan baku arang. Pemanfaatan kayu karet tersebut perlu didukung dengan teknis industri pengolahan.

Kontinuitas penyediaan bahan baku bagi industri pengolahan antara lain dapat ditempuh melalui pengembangan pola kemitraan antara petani dan industri pengolahan kayu karet. Pola kemitraan juga dapat menjamin harga jual kayu di tingkat petani sehingga dapat mendukung upaya peremajaan karet rakyat. Klon-klon anjuran seperti BPM 1, PB 330, PB 340, RRIC 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112, dan IRR 118 direkomendasikan untuk dikembangkan dalam skala luas sebagai penghasil lateks sekaligus kayu.

Peningkatan permintaan kayu karet didorong oleh makin membaiknya perekonomian dunia dan bertambahnya jumlah penduduk, serta terbatasnya ketersediaan kayu hutan alam terutama setelah kayu ramin, meranti putih, dan agathis dilarang untuk diekspor dalam bentuk kayu gergajian. Nilai ekonomi kayu karet yang makin tinggi tersebut dapat menjadi tambahan modal bagi petani untuk melakukan peremajaan kebun karet dengan menanam klon-klon unggul yang produktivitasnya tinggi dan pertumbuhannya cepat.

Artikel Terkait:

PELUANG DAN TANTANGAN USAHA AGROINDUSTRI KARETDukungan Kebijakan dalam Revitalisasi Perkebunan KaretPohon Industri Karet Indonesia 2011Potensi Industri Pengolahan Karet : Klaster industri pengolahan KaretPEREMAJAAN DAN PERLUASAN PERKEBUNAN KARET dalam Tuntutan Peremajaan Perkebunan Karet Rakyat

Peluang Usaha UKM

HAMA DAN PENYAKIT DALAM BUDIDAYA TANAMAN TEMULAWAK

Dalam suatu budidaya tanaman dalam hal ini budidaya temulawak, selain pemilihan bibit, teknik penanaman hingga perawatan yang turut menentukan hasil panen, kemampuan mencegah dan menangani gangguan serta serangan hama dan penyakit juga turut mencegah kemungkinan terjadinya gagal panen ataupun kerugian lain. Oleh karen ahal tersebut sebagai bekal dan tambahan informasi, berikut beberapa jenis hama , penyakit dan gangguan lain yang umum dalam budidaya temulawak dan cara pengendaliannya, serta pengendalian gangguan tersebut dengan cara organik yang lebih bersifat ramah lingkungan. Secara detail berikut ulasannya :

Hama pada tanaman temulawak adalah:

Ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites Esp.),Ulat tanah (Agrotis ypsilon Hufn.) danLalat rimpang (Mimegrala coerulenfrons Macquart).Pengendalian:

penyemprotan insektisida Kiltop 500 EC atau Dimilin 25 WP dengan konsentrasi 0.1-0.2 %.

Penyebab:

F. oxysporum Schlecht dan Phytium sp. serta bakteri Pseudomonas sp. Berpotensi untuk menyerang perakaran dan rimpang temulawak baik di kebun atau setelah panen.

Gejala:

Fusarium menyebabakan busuk akar rimpang dengan gejala daum menguning, layu, pucuk mengering dan tanaman mati. Akar rimpang menjadi keriput dan berwarna kehitam-hitaman dan bagian tengahnya membusuk. Jamur Phytium menyebabkan daun menguning, pangkal batang dan rimpang busuk, berubah warna menjadi coklat dan akhirnya keseluruhan tanaman menjadi busuk.

Pengendalian:

melakukan pergiliran tanaman yaitu setelah panen tidak menanam tanaman yang berasal dari keluarga Zingiberaceae. Fungisida yang dapat dipakai adalah Dimazeb 80 WP atau Dithane M-45 80 WP dengan konsentrasi 0.1 – 0.2 %.

Penyebab:

Pseudomonas sp.

Gejala:

kelayuan daun bagian bawah yang diawali menguningnya daun, pangkal batang basah dan rimpang yang dipotong mengeluarkan lendir seperti getah.

Pengendalian:

dengan pergiliran tanaman dan penyemprotan Agrimycin 15/1.5 WP atau grept 20 WP dengan konsentrasi 0.1 -0.2%.

Gulma potensial pada pertanaman temu lawak adalah gulma kebun antara lain adalah rumput teki, alang-alang, ageratum, dan gulma berdaun lebar lainnya.

Dalam pertanian organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan biasanya dilakukan secara terpadu sejak awal pertanaman untuk menghindari serangan hama dan penyakit tersebut yang dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yang komponennya adalah sbb:

Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat yaitu memilih bibit unggul yang sehat bebas dari hama dan penyakit serta tahan terhadap serangan hama dari sejak awal pertanamanMemanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alamiMenggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit.Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik misalnya budidaya tumpang sari dengan pemilihan tanaman yang saling menunjang, serta rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya untuk memutuskan siklus penyebaran hama dan penyakit potensial.Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang dipanen  maupun pada tanah. Di samping itu penggunaan bahan ini hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yang diperoleh dari hasil pengamatan.Tembakau (Nicotiana tabacum) yang mengandung nikotin untuk insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk serangga kecil misalnya Aphids.Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin yang dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat syaraf pusat yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.Tuba (Derris eliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone untuk insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan semprotan.Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung azadirachtin yang bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap seperti wereng dan serangga pengunyah seperti hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.Bebas dari hama penyakit (9), pengendalian hama dan penyakit pada panen (8), cara membudidayakan tanaman temulawak (3), bebas hama penyakit (3), hama lalat rimpang pada temulawak (3), pembibitan bengkuang (2), menjemput kedatangan tamu dengan meriah (1), Metode pencegahan hasil pannen akibat gangguan hama dan penyakit (1), pemeliharaan tanaman dari hama (1), akar rumput teki untuk pestisida nabati (1), pengendalian hama tanaman dengan menggunakan tanaman lain (1), pestisida nabati (1), tanaman yang bebas hama (1), teknik pengendalian hama terpadu melalui teknik budidaya (1), mengendalikan hama di pembibitan (1), lalat rimpang (1), kerugian pseudomonas sp (1), bebas dari hama penyakit adalah (1), bentuk hama penggulung (1), budidaya tanama temulawak (1), budidaya tumpang (1), Dimazeb 80 WP (1), getah pohon salak (1), gulma alang alang (1), hama dan penyakit bengkuang (1), jenis hama pada tanaman bengkuang (1), varietas tanaman tahan hama penyakit (1)

Artikel Terkait:

HAMA, PENYAKIT DAN SERANGAN GULMA DALAM BUDIDAYA TANAMAN SALAKTEKNIK PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN TANAMAN DALAM BUDIDAYA TEMULAWAKSerangan Hama dan Penyakit dalam Usaha Budidaya JagungPEDOMAN BUDIDAYA TEMULAWAK: PEMBIBITAN DAN PENGOLAHAN MEDIA TANAMSYARAT PERTUMBUHAN BUDIDAYA TEMULAWAK

Peluang Usaha UKM