Tampilkan postingan dengan label INDUSTRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INDUSTRI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

KARAKTERISTIK USAHA INDUSTRI KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)

KOPI Karakteristik Usaha Industri /Peta Industri : Struktur industri KOPI di dalam negeri secara garis besar dapat digolongkan ke dalam 3 kelompok, yaitu: Industri KOPI Olahan Skala Kecil (Home Industry), Industri KOPI Olahan Kelas Menengah, Industri KOPI Olahan Kelas Besar.

Industri yang tergolong dalam kelompok ini adalah industri yang bersifat rumah tangga (home industry) dimana tenaga kerjanya adalah anggota keluarga dengan melibatkan satu atau beberapa karyawan. Produk dipasarkan di warung atau pasar terdekat /di sekitar pabrik dengan menggunakan merek (private brand) atau tanpa merek. Industri yang tergolong pada kelompok ini pada umumnya tidak terdaftar di Dinas Perindustrian maupun di Dinas BPOM. Industri pada kelompok ini menyebar pada daerah sentra produksi KOPI.

Industri KOPI yang tergolong pada kelompok ini merupakan industri pengolahan KOPI yang menghasilkan KOPI bubuk atau produk KOPI olahan lainnya seperti minuman KOPI yang produknya dipasarkan di wilayah kecamatan atau kabupaten tempat parbik KOPI tersebut berdomisili. Produk umumnya dikemas dalam kemasan yang sederhana dan telah memperoleh ijin dari Dinas Perindustrian setempat sebagai produk rumah tangga. Pabrik KOPI olahan kelas menengah ini banyak dijumpai di sentra produksi KOPI seperti di Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Jawa Timur.

Industri KOPI kelompok ini merupakan industri pengolahan KOPI yang menghasilkan KOPI bubuk, KOPI instan atau KOPI mix, dimana hasil produksinya dipasarkan tidak hanya terbatas di wilayah pabrik tersebut berdomisili, tetapi juga dipasarkan ke berbagai daerah di dalam negeri, dan bahkan diekspor. Produk dikemas dalam kemasan yang menarik, dan telah mendapatkan nomor Merek Dagang dan atau label lainnya. Beberapa perusahaan yang tergolong kelompok industri ini, dan merajai perKOPIan di Indonesia dewasa ini adalah PT Santos Jaya Abadi, PT Torabika Semesta, PT Nestle Indonesia

Artikel Terkait:

KUNCI SUKSES USAHA / INDUSTRI KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI)PRODUSEN DAN PERKEMBANGAN PRODUK KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI) BAG 2PERKEMBANGAN INDUSTRI KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)PETA PRODUSEN KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)PRODUSEN DAN PERKEMBANGAN PRODUKSI KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI)

Peluang Usaha UKM

Senin, 03 Oktober 2011

PERKEMBANGAN INDUSTRI KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)

KOPI Perkembangan Industri KOPI di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah tentang pengiriman biji KOPI oleh Gubernur Belanda di Batavia pada tahun 1699 yang kemudian dibudidayakan di Pulau Jawa dan ternyata berhasil. Sejak tahun 1750-an, budidaya KOPI dikembangkan ke luar Jawa seperti Sumatera, Bali, Sulawesi dan Timor. Sayangnya, arah perkebunan KOPI pada masa VOC ini lebih diprioritaskan untuk ekspor, bukan untuk diolah lebih lanjut di dalam negeri. Jadi, industri KOPI praktis tidak berkembang. Baru sejak awal tahun 1920-an, industri KOPI dengan skala rumah tangga mulai muncul, kurang lebih bersamaan dengan diperkenalkannya KOPI robusta pada 1900-an untuk menggantikan KOPI arabika yang hancur karena diserang penyakit yang disebabkan oleh jamur.

Beberapa perusahaan KOPI industri kecil yang muncul pada masa itu dan masih eksis hingga saat ini adalah Kedoeng Ladjoe di Sidoarjo, Jawa Timur (1928), Muntu di Purwokerto, Jawa Tengah, Toko Ujung di Makassar dan Aroma di Bandung (1930). Kemudian UD Basuki yang namanya dahulu KOPI Tigowan di Kendal, Jawa Tengah (1935), UD Putra Mandiri (namanya dahulu Tjeng Guan) dengan merek Cap Singa di Surabaya, KOPI Kapal Api di Surabaya (1927), Nam Hong di Sukabumi Jawa Barat (1942), Segar Harum di Binjai Sumatera Utara (1945), Binri Jamos di Pematang Siantar (1948), dan Sido Mulia di Malang Jawa Timur serta Kemiri Rejo di Magelang Jawa tengah (1949).

Perusahaan-perusahaan KOPI berskala rumah tangga dan skala usaha kecil terus bermunculan hingga decade 1960-an. Tetapi berdirinya perusahaan KOPI skala besar baru dimulai sejak 1965 dengan berdirinya PT Ayam Merak yang ketika itu bernama Pabrik KOPI Banteng. Setelah itu, produsen KOPI berskala besar lainnya terus bermunculan, seperti CV Nefo di Jambi (1966), PT Megah Putra Sejahtera Intisari di Pekan Baru Riau (1969 sebagai Toko Liem), Perusahaan KOPI Sidikalang dan Nusantara di Medan Sumatera Utara.

Adapun produsen-produsen besar yang merajai bisnis perKOPIan di Indonesia saat ini berdiri setelah tahun 1970-an. Dimulai dari PT Inbrasco pada 1972, kemudian disusul oleh PT Santos Jaya Abadi yang sebetulnya kelanjutan dari KOPI Kapal Api yang telah ada sejak 1927 di Surabaya, dan PT Indofood Jaya Raya (1978) yang kemudian berganti nama menjadi PT Nestle Indonesia (2000). Pada periode 1980-an, produsen KOPI yang berdiri adalah PT Sari Incofood Corporation (1984) dan PT Torabika Eka Semesta (1989). Kemudian pada periode 1900-an, perusahaan yang muncul adalah PT Citra Aroma Indah (1991) yang kemudian berganti nama menjadi PT Aneka Coffee Industry (1995).

Rentang waktu yang amat panjang sejarah perKOPIan di Indonesia ini menjadikan jenis minuman ini telah membudaya penggunaannya di seatero nusantara. Bahkan meminum KOPI tidak hanya sebagai kebiasaan, tetapi sudah menjadi sebuah tradisi.

Artikel Terkait:

KARAKTERISTIK USAHA INDUSTRI KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)PRODUSEN DAN PERKEMBANGAN PRODUK KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI) BAG 2PETA PRODUSEN KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)KUNCI SUKSES USAHA / INDUSTRI KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI)PRODUSEN DAN PERKEMBANGAN PRODUKSI KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI)

Peluang Usaha UKM

ISU DAN PERMASALAHAN DALAM INDUSTRI KOPI

KOPI Sumber dari Departemen Perindustrian menyebutkan bahwa permasalahan perKOPIan di Indonesia masih seputar pengadaan kualitas bahan baku dan penerapan teknologi pengolahan KOPI itu sendiri. Berhubung perkebunan KOPI di Indonesia masih didominasi oleh perkebunan rakyat, dimana berdasarkan data 2006 mencapai 96% ( 1,21 juta ha dari total 1,26 juta ha), maka masalah pengetahuan penanganan pasca panen masih merupakan kendala yang serius. Petani masih relatif menangani pasca panen secara tradisional. Akibatnya mutu KOPI sebagai bahan baku pada industri pengolahan KOPI relatif rendah, atau paling tidak sulit diharapkan kekonsistenan kualitas. Memang, pada sentra-sentra produksi KOPI tertentu, dimana telah hadir produsen KOPI olahan besar seperti PT Nestle Indonesia di Lampung, penangan KOPI pasca panen relatif lebih baik dan terkendali.

Komposisi jenis tanaman KOPI di Indonesia masih didominasi oleh KOPI robusta (93 persen) dari pada arabika (7%), padahal permintaan KOPI arabika dunia jauh lebih besar dibandingkan KOPI robusta. Demikian pula dari segi harga, harga KOPI arabika jauh lebih mahal dari pada KOPI robusta. Usaha-usaha ke arah diversifikasi tanaman tidaklah mudah, karena terhadang oleh kesesuaian lahan terhadap tanaman KOPI arabika yang hanya sesuai untuk dataran tinggi (di atas 600 meter dari permukaan laut/dpl). Pemaksaan penanaman di dataran rendah hanya mengakibatkan resiko kegagalan yang tinggi akibat serangan penyakit layu yang merupakan musuh alami KOPI arabika di Indonesia. Sedangkan, sejauh ini belum terlihat hasil pengembangan dan penelitian yang signifikan dalam menghasilkan jenis KOPI arabika yang sesuai tumbuh untuk daerah dataran rendah. Ini tentunya tantangan ke depan terhadap daya kratifitas anak-anak bangsa dalam menghasilkan varietas KOPI arabika baru.

Isu teknologi (mesin dan peralatan) produksi biji KOPI mulai dari pengeringan, pengupasan, dan sortasi masih merupakan kendala klasik yang dihadapi oleh usaha industri skala kecil dan menengah. Juga keterbatasan pada penguasaan teknologi proses pada tahap roasting. Tak mengherankan ke depan, kalau industri KOPI skala kecil dan menengah ini pertumbuhannya stagnan atau bahkan makin terpuruk dan gulung tikar, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, karena hantaman persaingan yang tidak seimbang dengan produsen besar dan berskala nasional dan bahkan internasional ekspor), karena didukung oleh teknologi canggih dari Jerman dan teknologi dari Negara-negara maju lainnya.

Dengan kapasitas produksi KOPI bubuk bermerek PT Santos Jaya Abadi saja yang saat ini mencapai 15 ton per jam, sebagaimana telah diulas, jika bekerja dengan 3 shift per hari ( 1 shift = 7 jam) pada total waktu kerja 300 hari per tahun, maka produksi perusahaan ini saja mencapai 80 persen atau 103.950 ton) dari total produksi seluruh KOPI bubuk di Indonesia pada 2008 yang sebesar kurang lebih 130.000 ton.

Demikian pula dengan kapasitas produksi KOPI instan oleh tiga produsen terbesarnya dalam negeri yang mencapai 18.600 ton per tahun. Artinya, jika ketiga produsen ini bekerja dalam kapasitas penuh maka praktis produksi mereka melebihi kebutuhan dalam negeri yang masih berkutat pada kisaran 11.000 ton per tahun.

Isu lainnya di lapangan adalah tingginya biaya transportasi di Indonesia, yang berdampak kepada tingginya harga jual produk KOPI Indonesia, khususnya untuk pemasaran ke luar negeri. Kita misalnya sudah kalah bersaing dengan harga KOPI dari Vietnam pada tingkat kualitas KOPI yang sama.

Produksi KOPI mix ke depan diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan gaya hidup, tren dan kepraktisan yang menyertai konsumsi dari pada KOPI ini. Sayangnya, dampak langsung secara positip pertumbuhan produksi ini terhadap konsumsi KOPI Indonesia relati kecil, karena proporsi KOPI yang relatif kecil dibandingkan dengan content lainnya terutama, gula dan susu.

Artikel Terkait:

PETA PRODUSEN KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)KUNCI SUKSES USAHA / INDUSTRI KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI)PERKEMBANGAN PRODUKSI KOPI DI INDONESIAKARAKTERISTIK USAHA INDUSTRI KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)Potensi Usaha Perkebunan Kopi dalam Pasar Lokal dan Internasional

Peluang Usaha UKM

Minggu, 02 Oktober 2011

KUNCI SUKSES USAHA / INDUSTRI KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI)

KOPI KUNCI SUKSES USAHA / INDUSTRI KOPI : KOPI bubuk merupakan produk olahan KOPI yang dominan penggunaannya di dalam negeri dari pada jenis KOPI olahan lainnya. Pengolahan KOPI bubuk ini relatif sederhana sehingga dapat dilakukan pada skala usaha rumah tangga. Karena itu, di pasar cukup banyak ditemukan KOPI tanpa merek yang memiliki pangsa pasar tersendiri dan tetap eksis. Mengapa demikian?

Karena KOPI ini sifat penggunaannya mirip dengan rokok. Ada faktor kecanduan pada rasa dan aroma tertentu. Jadi, defenisi kualitas pada produk KOPI sebetulnya lebih merujuk kepada rasa dan aroma yang sudah melekat pada kebiasaan mengkonsumsi jenis KOPI tertentu. Inilah yang membuat KOPI bubuk tanpa merek akan tetap eksis. Artinya, salah satu faktor kunci di industri KOPI ini agak tetap eksis adalah dalam hal mempertahankan konsistensi rasa dan aroma KOPI original, dan telah diperkenalkan kepada konsumen sejak mereka berumur di atas 15 (lima belas) tahun. Dibarengi dengan pembelajaran kepada konsumen secara terus menerus tentang khasiat minuman ini dalam mempertahankan stamina tetap stabil (tidak menjadi loyo atau ngantuk), dan sebaliknya sekaligus juga pemberitahuan larangan bagi mereka yang terkena penyakit tertentu.

Ke depan, produsen yang eksis adalah produsen yang mampu memperkenalkan KOPI dengan rasa dan aroma yang khas dan menjaga konsistensi kekhasan tersebut. Untuk menjaga konsistensi kekhasan KOPI, produsen mau tidak mau harus bermitra dengan kelompok tani KOPI dan memberikan pembimbingan budidaya yang tepat agar didapatkan kualitas KOPI yang seragam dan baik, sebagaimana selama ini telah dikembangkan oleh PT Toarco Jaya di Sulawesi Selatan dan PT Nestle Indonesia di Lampung Selatan.

Selanjutnya, untuk memperluas wilayah distribusi produk, maka mau tidak mau kunci suksesnya terletak pada keberanian mempromosikan produk, terutama media cetak atau media radio; dan yang lebih canggih lagi adalah melalui layar televisi, sebagaimana telah dilakukan pertama kali oleh KOPI Kapal Api ketika pada awalnya KOPI ini menjangkau daerah Jawa, dan kemudian ke luar Jawa.

Artikel Terkait:

KARAKTERISTIK USAHA INDUSTRI KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)PRODUSEN DAN PERKEMBANGAN PRODUKSI KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI)PRODUSEN DAN PERKEMBANGAN PRODUK KOPI (SERIAL BUDIDAYA KOPI) BAG 2PETA PRODUSEN KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)PERKEMBANGAN INDUSTRI KOPI DI INDONESIA (SERIAL BUDIDAYA KOPI)

Peluang Usaha UKM