Karet (rubber) merupakan produk unggulan subsektor perkebunan di Indonesia bersama kelapa sawit, kelapa, tebu, kakao, kopi, teh, tembakau dan kapas. Di sektor perdagangan, karet dan produk karet juga termasuk sepuluh komoditas utama yang diprioritaskan pengembangannya baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Di Indonesia, tanaman karet (Hevea brasiliensis) telah dibudidayakan dalam pola perkebunan sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda. Hingga sekarang, pertanaman karet masih dikelola dalam pola perkebunan yang terdiri atas perkebunan rakyat, perkebunan besar negara, dan pekebunan besar swasta. Ditunjang oleh faktor kondisi tanah dan iklim yang sesuai, tanaman karet di Indonesia dapat tumbuh subur sehingga produksinya terus meningkat. Menurut catatan Ditjen Perkebunan, Departemen Pertanian, saat ini luas areal perkebunan karet alam Indonesia mencapai sekitar 3,47 juta ha yang terdiri atas 2,932 juta ha (84,5%) areal perkebunan rakyat, 250 ribu ha (7,2%) areal perkebunan besar negara, dan 288 ribu ha (8,3%) areal perkebunan besar swasta. Adapun produksi hingga tahun 2008 adalah sebesar 2.921.872 ton yang berasal dari perkebunan rakyat sebesar 2.366.716 ton (81%), perkebunan besar negara sebesar 262.969 ton (9%), dan dari perkebunan besar swasta sebesar 292.187 ton (10%). Sementara untuk tahun 2009 ini, total luas areal perkebunan karet Indonesia diperkirakan bertambah menjadi 3.524.583 hektar dengan total produksi ditargetkan mencapai 3.040.111 ton.Salah satu kendala peningkatan produksi karet di Indonesia adalah banyaknya tanaman karet yang kondisinya sudah tua atau rusak (berusia di atas 20 tahun). Selain itu, tingkat produktivitas tanaman masih rendah, karena sebagian besar berasal dari benih sapuan, bukan klon unggul. Terutama di perkebunan rakyat, penggunaan benih klon unggul rata-rata baru mencapai 40%.Sejalan dengan program revitalisasi pertanian yang dicanangkan pemerintah, strategi peningkatan produksi karet dilakukan melalui revitalisasi perkebunan yang mencakup perluasan areal, peremajaan dan rehabilitasi tanaman. Program ini telah berjalan sejak tahun 2006, dengan sasaran areal tanaman karet hingga tahun 2010 seluas 213.000 ha yang merupakan usulan dari 11 provinsi. Apabila lahan tersebut dioptimalkan melalui peremajaan, diharapkan produksi karet akan meningkat sekitar 20 – 30%.Sedikit berbeda dengan catatan Ditjen Perkebunan, menurut Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), bahwa pada tahun 2008 produksi karet alam Indonesia mencapai sekitar 2.636.000 ton. Namun, baik data Ditjen Perkebunan maupun Gapkindo, keduanya telah menempatkan Indonesia sebagai negara produsen karet peringkat kedua di dunia setelah Thailand. Indonesia memberikan kontribusi sebesar 28% terhadap produksi karet alam dunia.Akhir-akhir ini, produksi karet di Thailand menunjukkan tren penurunan, sementara produksi karet Indonesia diperkirakan terus meningkat dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 5% per tahun. Apabila kondisi tersebut terus berlangsung, maka pada tahun 2015 Indonesia diprediksi menjadi negara produsen karet terbesar dunia.Gapkindo juga menyebutkan bahwa total ekspor karet Indonesia pada tahun 2007 adalah sebesar 2,4 juta ton atau senilai US$4,9 miliar dengan pertumbuhan 10% dibanding dengan tahun 2006. Angka sementara total ekspor karet tahun 2008 mencapai 2,5 juta ton atau senilai US$6 miliar dengan pertumbuhan 4% dibanding tahun 2007.Untuk tahun 2009, International Tripartite Rubber Council (ITRC) yang terdiri atas tiga negara peringkat atas eksportir karet dunia (Thailand, Indonesia dan Malaysia), sepakat untuk mengurangi volume ekspor karet alam sebesar 915.000 ton atau 16% dari total volume ekspor tahun 2008. Kesepakatan tersebut merupakan hasil pertemuan ke-14 ITRC pada akhir 2008 lalu. Tujuan pengurangan volume ekspor adalah untuk menjaga stabilitas harga karet dunia yang terus melorot ke level di bawah US$2 per kg, menyusul pelemahan produksi industri yang berbahan baku karet alam sebagai dampak dari krisis global.Sebagai respons atas kesepakatan yang kurang kondusif tersebut, Indonesia akan memangkas produksi karet alam sekitar 30% dengan menekan frekuensi penyadapan. Menurut Menteri Pertanian, Anton Apriyantono, karet bisa disimpan di pohon. Pengurangan frekuensi penyadapan akan menurunkan suplai ke pasar internasional sehingga harga komoditas ini diharapkan dapat kembali ke level US$2 per kg atau lebih.Namun, keputusan Menteri Pertanian tersebut tidak sepaham dengan Association of Natural Rubber Producing Countries (ANRPC). Menurut Sekjen ANRPC, Djoko Said Damardjati, mengurangi produksi hingga 30% bisa menjadi bumerang. Indonesia bisa kehilangan pasar, karena sekitar 94% karet alam dunia diproduksi hanya oleh sembilan negara. Jika Indonesia memangkas produksi hingga 30%, maka pangsa pasarnya berpotensi diisi oleh negara produsen lain. Dengan demikian, Indonesia bisa kehilangan dua hal, yaitu kehilangan pangsa pasar dan kehilangan pendapatan, karena keputusan penurunan produksi belum tentu dapat menaikkan harga.Sekjen ANRPC justru mengusulkan agar Indonesia dapat memanfaatkan potensi pasar dalam negeri yang cukup besar untuk menyiasati lesunya pasar ekspor. Apabila pemerintah dapat mendorong konsumsi di dalam negeri untuk produk lokal berbasis karet, maka industri dalam negeri akan tumbuh. Misalnya industri ban kendaraan bermotor yang sangat jelas menggunakan bahan baku karet alam paling besar. Sementara pengembangan industri non-ban yang tetap menggunakan bahan baku karet meliputi industri pembuatan kasur (matras), alas sepatu, isolasi listrik, tambang pipa, kondom, dan sarung tangan.Artikel Terkait:
PEREMAJAAN DAN PERLUASAN PERKEBUNAN KARET dalam Tuntutan Peremajaan Perkebunan Karet RakyatKINERJA INDUSTRI KARET INDONESIA Ketersediaan Lahan Perkebunan KaretJENIS-JENIS KARET ALAM DALAM USAHA AGROINDUSTRI KARETDukungan Kebijakan dalam Revitalisasi Perkebunan KaretPotensi Industri Pengolahan Karet : Klaster industri pengolahan Karet
Karakteristik Usaha Industri /Peta Industri : Struktur industri KOPI di dalam negeri secara garis besar dapat digolongkan ke dalam 3 kelompok, yaitu: Industri KOPI Olahan Skala Kecil (Home Industry), Industri KOPI Olahan Kelas Menengah, Industri KOPI Olahan Kelas Besar.Industri yang tergolong dalam kelompok ini adalah industri yang bersifat rumah tangga (home industry) dimana tenaga kerjanya adalah anggota keluarga dengan melibatkan satu atau beberapa karyawan. Produk dipasarkan di warung atau pasar terdekat /di sekitar pabrik dengan menggunakan merek (private brand) atau tanpa merek. Industri yang tergolong pada kelompok ini pada umumnya tidak terdaftar di Dinas Perindustrian maupun di Dinas BPOM. Industri pada kelompok ini menyebar pada daerah sentra produksi KOPI.Industri KOPI yang tergolong pada kelompok ini merupakan industri pengolahan KOPI yang menghasilkan KOPI bubuk atau produk KOPI olahan lainnya seperti minuman KOPI yang produknya dipasarkan di wilayah kecamatan atau kabupaten tempat parbik KOPI tersebut berdomisili. Produk umumnya dikemas dalam kemasan yang sederhana dan telah memperoleh ijin dari Dinas Perindustrian setempat sebagai produk rumah tangga. Pabrik KOPI olahan kelas menengah ini banyak dijumpai di sentra produksi KOPI seperti di Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Jawa Timur.Industri KOPI kelompok ini merupakan industri pengolahan KOPI yang menghasilkan KOPI bubuk, KOPI instan atau KOPI mix, dimana hasil produksinya dipasarkan tidak hanya terbatas di wilayah pabrik tersebut berdomisili, tetapi juga dipasarkan ke berbagai daerah di dalam negeri, dan bahkan diekspor. Produk dikemas dalam kemasan yang menarik, dan telah mendapatkan nomor Merek Dagang dan atau label lainnya. Beberapa perusahaan yang tergolong kelompok industri ini, dan merajai perKOPIan di Indonesia dewasa ini adalah PT Santos Jaya Abadi, PT Torabika Semesta, PT Nestle Indonesia
KARET Sebagai Komoditas Perkebunan Unggulan : KARET merupakan tanaman tahunan yang tumbuh subur di daerah tropis dengan curah hujan yang cukup. Menurut asal-usulnya, tanaman KARET berasal dari Brasil dan kemudian berkembang di seluruh dunia. Namun saat ini penghasil utama KARET berada di negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Indonesia dan Malaysia. Sejak pembangunan perkebunan di Indonesia dikembangkan oleh pemerintah kolonial Belanda, KARET telah dijadikan sebagai komoditas unggulan bersama tebu, kopi, teh, tembakau, kina, kapas dan rempah-rempahan. Demikian halnya setelah perkebunan-perkebunan Belanda dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia, KARET tetap menjadi salah satu komoditas primadona perkebunan.Ketika Indonesia dipimpin oleh Jenderal Besar Presiden Soeharto, komoditas KARET semakin dipacu perkembangannya. KARET dibudidayakan oleh perkebunan rakyat (PR), perkebunan besar negara (PBN) dan perkebunan besar swasta (PBS). Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian, pada awal pemerintahan Soeharto di tahun 1967, luas perkebunan KARET di Indonesia baru 2.131.704 hektar dengan total produksi 709.251 ton. Kemudian pada akhir pemerintahan Presiden Soeharto di tahun 1997, luas perkebunan KARET Indonesia menjadi 3.474.402 hektar atau meningkat sekitar 63% dengan total produksi sebesar 1.552.585 ton atau meningkat sekitar 120%.Tahun 1998, areal perkebunan KARET mencapai puncak dengan luas 3.607.295 hektar. Demikian pula produksinya yang mencapai 1.661.898 ton.Namun, mulai tahun 1999 luas areal perkebunan KARET mengalami penyusutan hingga 3.262.267 hektar di tahun 2004 meskipun total produksinya masih cenderung terus meningkat. Baru pada tahun 2005 luas areal tersebut menunjukkan pertumbuhan kembali.Sekarang, menurut Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Indonesia memiliki lahan perkebunan KARET paling luas di dunia. Sayangnya, dari segi produksi hanya mampu menempati urutan kedua setelah Thailand. Namun demikian, Indonesia memiliki hamparan perkebunan KARET seluas 3,47 juta hektar lebih, dimana 85% diantaranya merupakan perkebunan rakyat. Melalui upaya penerapan teknologi maju dan bibit jenis unggul diharapkan perkebunan KARET Indonesia mampu meningkatkan produksi per satuan hektar.Indonesia menargetkan bisa menjadi negara penghasil KARET terbesar di dunia pada tahun 2015. Upaya itu dilakukan dengan merevitalisasi perkebunan KARET seluas 300.000 hektar hingga 2010, sekaligus mengganti tanaman KARET yang rusak dan tua yang mencapai 400.000 hektar. Selain itu, pemerintah juga mengundang investor untuk mengembangkan perkebunan KARET, sekaligus membangun usaha hilir dan pemilik modal itu akan diberi kemudahan dalam bidang perijinan dan insentif pajak.Menurut Menteri Pertanian pula, budidaya perkebunan KARET memiliki peranan yang sangat penting dalam perekonomian nasional, antara lain sebagai sumber pendapatan bagi lebih dari 10 juta petani dan menyerap sekitar 1,7 juta tenaga kerja lainnya. Selain itu, KARET juga merupakan salah satu komoditas nonmigas yang secara konsisten nilai ekspornya terus meningkat. Sebanyak 15 provinsi di Indonesia tercatat sebagai sentra produksi KARET nasional, antara lain Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.Dari segi pasar, produksi KARET Indonesia terutama ditujukan untuk meningkatkan ekspor serta memenuhi kebutuhan dalam negeri. Tingginya kebutuhan akan komoditas KARET menunjukkan bahwa permintaan bahan baku KARET baik di pasar lokal maupun internasional memiliki prospek yang sangat baik untuk terus dikembangkan.KARET merupakan komoditas ekspor yang mampu memberikan kontribusi terhadap upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor KARET Indonesia dari tahun ke tahun terus menunjukkan peningkatan. Menurut International Rubber Study Group (IRSG), konsumsi KARET alam dunia selalu mengalami kenaikan setiap tahun. Pada tahun 2004 konsumsi KARET alam dunia mencapai 8,23 juta ton sedangkan produksi dunia sekitar 8,475 juta ton per tahun. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2000, dimana konsumsi dunia sebanyak 7,31 juta ton dengan produksi sebanyak 6,74 juta ton. Antara konsumsi dan produksi KARET dunia semakin menunjukkan adanya defisit produksi, sehingga menjadi potensi bagi Indonesia untuk pengembangan budidaya KARET di masa yang akan datang.Sebagai salah satu negara penghasil KARET terbesar, Indonesia memiliki peran yang besar dalam percaturan KARET dunia. Bahkan Indonesia merupakan anggota konsorsium KARET internasional IRCO yang turut berperan sebagai pengendali harga KARET alam dunia. Selain Indonesia, anggota IRCO lainnya adalah Malaysia dan Thailand yang juga merupakan produsen utama KARET alam. Selanjutnya IRCO juga berusaha menggaet Vietnam untuk memperkuat peranan IRCO dalam mengendalikan harga KARET dunia.